Friday, August 11, 2006

Pagi-Sore di St Gondangdia

Pagi hari turun dari kereta Pakuan jam 8.18. Turun dari tangga pertama disambut pemeriksa karcis. Turun dari tangga kedua disambut rombongan tukang ojek. Di lantai dasar disambut pemandangan yg bikin miris...

Sudah lama sebagian lantai dasar st Gondangdia diisi oleh pedangang, yg selain membuka lapak dagangannya juga "merumah" di sana. Mereka mandi, memasak, dan tidur di lapak jualan mereka itu. Dari kemarin saya perhatikan seorang anak wanita berusia 4 atau 5 tahun, habis mandi, masih bugil, berlari mengikuti ibunya dari tempat mandinya ke "rumah" mereka. Aduuuh, ibunya sudah diberikan kesempatan untuk memandikan anaknya, kenapa juga tidak dia manfaatkan untuk mengajarkan aurat sejak dini? Hari kemarin saya melihat anak itu, juga dg kondisi bugil, di depan warung makan (mungkin itu lapak makanan orangtuanya) dan seorang laki-laki dewasa (yg sepertinya bukan bapaknya atau kakeknya, ataupun pamannya) sedang mengajaknya bercanda sambil memegang tubuh bugilnya... Astaghfirulloh... Kalaulah kebiasaan ini terbawa sampai ia dewasa, mengingat masa kecil adalah masa ditanamkannya akhlak2 yg baik, apa yg akan terjadi? Mungkin dia merasa sah-sah saja jadi model majalah bugil? Toh dari kecil juga sudah "biasa"... Mungkin dia akan tenang-tenang saja saat seorang laki-laki "memegang" tubuhnya di bagian mana pun, toh dari kecil juga sudah banyak yg pegang? Na'udzubillaahimindzalik... Semoga 4JJI memberikan hidayah pada orangtuanya untuk mengajarkan akhlak yg baik untuk masa depan anaknya dan kemuliaan mereka sendiri. Paling tidak, pakaikanlah handuk pada anaknya itu setelah mandi, saat melintas dari tempat mandi ke "rumah"nya... (atau jgn2 handuk pun dia tak punya? mungkin saatnya tangan kanan bertindak, daripada membiarkan otak berpikir tanpa tindakan berarti ya?)


Lain lagi pemandangan sore hari saat sampai di depan loket penjualan karcis Pakuan. Seorang ibu muda,mungkin masih seumuran SMP, menggendong anak bayi yg kumal, meminta sedekah untuk makan, untuk beli susu anaknya, katanya. Susu anak itu tergeletak di lantai, masih sebotol penuh memang. Jgn2 itu adalah botol terakhirnya? Yang tidak disangka adalah ketika datang seorang perempuan yg lebih tua, mengambil alih penggendongan anak itu, dengan "mengepitnya" di ketiak. Apakah anak itu anak yg dipinjamkan untuk diajak mengemis? Yang terbayang adalah anak sendiri. Sungguh tega sekali memperlakukan anaknya dengan sekasar itu, tanpa kasih sayang. Ya Rabb, bagaimana kalau anak itu adalah anakku? Sungguh kasihan nasibnya.


Di kereta pakuan atau ekonomi, lain lagi ceritanya. Anak bayi dan balita diajak "nyari duit", ntah itu mengamen (diajarin joget seronok pula... dan bapak2 di dalam kereta malah memandang anak itu sambil tertawa-tawa... Astaghfirulloh, apanya Pak yang lucu?? Sungguh menyedihkan, sejak kecil diajarkan mencari uang dg cara seperti itu... Bukan salahnya sepenuhnya kalau sudah besar dia "menjual dirinya" ya?) ataupun menyapu lantai kereta. Pun ada yg tanpa tedeng dialing-aling langsung minta uang untuk makan. Bersungut kalau tidak ada seorang pun yg memberinya atau memperhatikannya.

Duhai... sungguh akan celaka aku ini... Tidaklah tangan kananku bisa membantu mereka semua... Doaku untuk mereka, semoga hidayah 4JJI akan datang membimbing mereka ke jalan yg lurus, dan semoga pertolongannya segera datang untuk mengangkat mereka dari kenistaan dan kemiskinan... Dan bilalah rejeki mereka lewat tanganku, semoga ringanlah tangan dan hatiku untuk mengeluarkan hak-hak mereka... Dan semoga 4JJI meringankan juga hati dan tangan sodara-sodara yg lain untuk membantu mereka keluar dari ketidakberdayaan, bukan saja dari harta benda, tapi dari kejahilan, dari ketidaktahuan tentang jalan yg lurus... Amiin. Semoga 4JJI mengampuni dosa hamba-Nya yg dho'if ini dan menyelamatkan hamba dari kecelakaan dan keburukan, karena tak mampu berbuat banyak untuk mereka... Amiin.

No comments: