Monday, August 13, 2007

A Wedding

Apa yg kita persiapkan untuk sebuah pernikahan? Kejadian yg katanya hanya sekali seumur hidup, dan harus meninggalkan kesan mendalam?

Sebagian besar orang begitu terhanyut dengan persiapan duniawi, mencari gedung, dekor, hidangan, kartu undangan, baju, dan rentetan acara adat. Sebagian besar orang melupakan tuntunan syariat tentang pernikahan. Sebagian besar orang begitu takut dengan omongan orang, dengan ketakutan yg melebihi ketakutannya pada Alloh.

Waktu saya mau menikah dulu, saya begitu ingin pernikahan saya berjalah sesuai tuntunan syariat. Saya mencari tahu apa saja yg harus dilakukan dalam mempersiapkan pernikahan. Saya mendapat "sumbangan" ilmu dari adik-adik suami melalui buku terbitan At-Tibyan. Misalnya diterangkan bagaimana tidak diperbolehkannya meninggikan pelaminan, memamerkan pengantin wanita yg berhias molek, mempergunakan pakaian yg tidak syar'i, menyatukan tamu wanita dan pria, adanya gambar-gambar mahluk bernyawa atau patung, musik-musik, foto prewedding, tidak disandingkannya pengantin wanita dan pria sebelum selesainya akad nikah, dan tidak kalah pentingnya adalah bagaimana perubahan struktur mahrom bagi pihak suami maupun istri (banyak orang yg merasa "Ah, kan udah jadi sodara" sehingga mereka mengabaikan status mahrom, padahal adik/kakak laki-laki suami bukan mahrom bagi istri, sehingga mereka tidak boleh tidak berhijab di depan mereka, ini baru satu contoh ya)

Sebagian besar orang sepertinya telah kehilangan esensi menikah sebagai "IBADAH" sehingga kebanyakan orang melangsungkan pernikahan seperti layaknya sebuah seremoni belaka, tanpa mengindahkan aturan-aturan syariat yg berlaku atasnya.

Ketika ada yg hendak menikah, tanyakan, apakah mereka sudah mengerti tentang hukum syar'i walimatul ursy? Pahamkah mereka adab-adab malam pengantin? Mengertikah mereka tentang adab-adab berhubungan suami istri? Atau pahamkah mereka tentang hak dan kewajiban suami-istri dalam tuntunan Islam?

"Saya sudah pernah membaca, tapi lupa tuh."
"Yah, ntar kan gampang tinggal baca"
"Penting, ya?"

Memang tidak semuanya dapat dijalankan dg baik. Misalnya saja tamu-tamu saya masih bercampur dengan sendirinya, karena yaaah memang mereka biasanya dg yg begitu. Pelaminan tetap saja ada, karena adanya pendapat "Kasian dong temen yg kenalnya sama pengantin wanita tapi gak kenal pengantin pria..." Kami hanya bisa bertekad agar anak-anak kami nanti tidak mengalami hal-hal yg kami alami, yg melanggar aturan Alloh dan sunnah Rosul-Nya.

Lalu, atas dasar apakah pernikahan itu dilangsungkan? Cinta pada Alloh? Cinta pada Rasululloh? Atau nafsu hina manusia semata? Bagaimanakah perjalanan menuju pernikahan itu? Penuh dengan ketaatan pada hukum-hukum Alloh akan hubungan pria dan wanita non mahrom? Ataukah penuh dengan kedekatan pada perbuatan-perbuatan zina?

Sungguh Alloh Maha Mengetahui dan Maha Pengampun. Terlambat kembali pada jalan kebenaran adalah lebih baik daripada tidak. Bagaimanakah bisa kita berdoa agar mendapatkan keluarga sakinah, mawaddah, warohmah, ketika kita mempersiapkan, menyelenggarakan, dan menyelesaikan proses pernikahan jauh dari tuntunan Alloh dan RosulNya? Di manakah keberkahan selain dari ketaatan pada Robb semesta alam?

Menikah dalam Islam adalah ibadah, menyempurnakan separuh dien. Lalu bagaimana ibadah dalam Islam dilakukan tanpa melihat contoh Rosululloh
Solallohu 'Alaihi wa sallam? Tanpa melihat tuntunan pergaulan dalam Al-Qur'an? Akan sempurna kah setengah dien itu?

Wallohu'alam bis showab

Monday, August 06, 2007

HP 7 : Kok Ternyata di Awalnya Seru ya...

Ewwwh baru baca sampe halaman 73an. Maklum ibu-ibu banyak yg harus didahulukan daripada baca HP. Tapi ternyata Death Eaters chase itu seru juga. Jadi pingin beli... hihihi
(tapi tetep gak suka endingnya! )

Sunday, August 05, 2007

Where to Shop What (wakakakakak)

Sebagian tempat nyari barang murah meriah tapi tetep berkualitas, hasil chatting sama DP, my dear pren...

kl mau beli alat2 plastik murah banget
di jembatan lima deket roxy tuuuu

kl mainan
di pasar gembrong

barbie murah
di jatinegara (kl ga salah)

baju murah n bagus
di tanah abang blok A (yg butik)

kl mau beli sepatu kets murah n bmerk (ada yg aspal n palsu), celana jeans murah, jaket2 kulitnya juga suka bagus
di pasar uler (bener2 gokil harganya)
catatan :
pokoknya dari cem put itu lurussssssss aja ke arah tj priok ntar tanya pasar uler yg pinggir kali aja coz pasar uler di deket tj priok ada dua, yg di plumpang aja, pasarnya sebelah kanan pasarnya sih kios 'pasar beneran' tp harganya okeh banget. nawarnya 1/3 dulu, jgn naik cepet2 ngotot aja, tp tetep baik2. celana jeans harganya 50rban (itu juga udah big big size)
sepatu blm tau tp kl kulit (nyaris asli) sekitar 100. kl sepatu kets under 100 (reebook, nike, adidas, dll) tp palsu yak. sepatu ked anak2 20-30 rb (utk anak 4-6 th) itu jg udah lumayan bagus. kl sepatu anak2 yg ky di athlete foots mah mungkin 50 kali ya??? pokoknya utk sepatu kets ,jaket kulit, celana jeans, ok lahhh. cuma kl kualitasnya jgn samakan dengan aslinya yg harganya 500 rban yak. namanya jg murah meriah, tp lumayan cukup bs bertahan lama kok

minyak wangi
di kota (kl di bandung yg aspalnya alias isi ulang, tp lebih enak dr aslinya, di gang depan horison soekarno hatta)

HP 7 : Gak Pingin Beli!

Ewh, liat endingnya di Wikipedia, jadi gak pingin deh beli HP 7!
Untungnya ada temen yg mau minjemin, hihihi
(Padahal aslinya saya ini kolektor buku sejati, biar gak seru tetep dikoleksi, tapi yaaa namanya udah punya anak, mesti mikir anak juga lah, mending buat beli baju dan keperluan anak tu 270rebunya! Hehehe )

Thursday, July 26, 2007

Tempat Makan Di Bogor (dsk)


Ini hasil rekap pertanyaan dari temen-temen di milis BA + NCC. Barangkali ada yang mau wisata kuliner di Bogor. Asal betah aja sama macetnya... hihihi

No
Nama
Alamat
Telp/Fax
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.



16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.

Ayam Goreng
Ayam Goreng Kalasan
Bogor Permai Restorant
Bunga Seruni
Bunut Sari
Cahaya Baru Rumah Makan

Ceria Rumah Makan
Ciawi Permai Permai Rumah Makan
Citra Sari Restaurant
Delima Restorant
Ekaria Permai Restorant
Elok Tirta
Elta Tan Ek Tjoan
Fajar Restaurant
Fastfood Indonesia PT



Graha Karya Sejahtera CV
Gumarang Baru Rumah Makan
Handayani Rumah Makan
Hegar Sari
Jagorawi Bakery & Restorant
Kentucky Fried Chicken
Kudus Asli
Kudus
Kataji ( Taman Topi )
Lautan Restaurant
Makassar Rumah Makan
Mars Restaurant & Bungalau
Mbok Berek Rumah Makan
Mendawai Rumah Makan
Mojang Pasundan Restaurant
Nuansa Cibulan Restaurant
Ny. Yenny Chinesse Food Indonesia
PST Rumah Makan
Pakally Fast Food Restaurant
Palm garden Rumah Makan
Pancoran Rumah Makan
Pandansari
Permata hotel & Restaurant
Pondok Bambu Tirta III Rumah Makan
Pondok Bambu Tirta Rumah Makan
Ponyo 7
Rilex Wisata Restaurant
Rindu Jaya Restoran
Romenda
Sari Pasundan Warung
Sari Rumah Makan
Sate Gembira Rumah Makan
Sate Jakarta Rumah Makan
Saung Kuring Rumah Makan
Sederhana Rumah Makan
Selera Rumah Makan
Sinar Minang Rumah Makan
Soto Ayam Bangkong
Sunda Kelapa
Tirta Rasa
Trio Rumah Makan
Rugu Restaurant
Zodiak Restaurant
Jl. Pajajaran 137- 138
Jl. Raya Puncak
Jl. Jend.Sudirman No.23A
Jl. Pahlawan Kemerdekaan
Jl. Merdeka
Jl. Raya Pajajaran 7
Jl. Siliwangi 114
Kp. Kopo 555 Csa
Jl Ciawi Raya No 391
Jl. Raya Baru Kemang I
Jl. Suryakencana No.56/30
Jl. Raya Puncak Cipayung 270
Jl. Siliwangi 176 Bogor 16134
Jl. Siliwangi 176 Bogor 16134
Jl. Raya Bogor Sukabumi Km 17
Jl. Pajajaran 8
Jl. Surya Kencana B
Jl. Tol Jagorawi
Jl. Raya Puncak Cisarua
Jl. Dr Semeru
Jl. Raya Cimanggu
Jl. Raya Puncak Cisarua
Jl. Raya Kd.Halang
Jl. Raya Gadog Km 12
Jl. Pajajaran No.8
Jl. Raya Ciawi
Jl. Raya Tajur
Jl. Kapten Muslihat
Jl. Jend.Sudirman No 15
Jl. Raya Bogor Sukabumi Ciawi 57
Jl. Cipayung Cisarua
Kp. Cipayung Rt 04/05 Cisarua
Jl. Cibeureum Cisarua
Jl. Cimande Hilir Rt 01/08
Jl. Raya Puncak 519 Cisarua
Jl. Bina Marga 1
Jl. Baru 7 A SPL
Jl. Merdeka 57
Jl. Raya Pajajaran
Jl. Kedung Halangg 111
Jl. Raya Gadog 619
Jl. Raya Pajajaran 35
Jl. Kedung Halang Rt 01/03
Jl. Abaru
Jl. Pajajaran 102
Jl. Raya Cipayung 99 Cisarua
Jl. Raya Parung
Jl. Baru
Kp. Ciherang Pd 16
Jl. Siliwangi 20
Jl. Raya Sukabumi Cisarua
Jl. Raya Sukabumi Cibogo
Jl. Baru Kedung Badak 9
Jl. Surya Kencana 73
Jl. Nyi Raja Permas 27
Jl. Raya Puncak Cisarua
Jl. Raya Puncak 20 Cibinong
Komplek Evergreen Tugu Cisarua
Kp.kb Cau Rt06/01 Cisarua
Jl. Raya Muchtar 20
Jl. Pajajaran
Jl. Raya Puncak km 85,5 Cisarua
Kp. Gadog Rt 01/01 Cibogo
320983
321115
360717
-

341126
371326
255649
327140
318530
-
253774
338877
322635/325392
240001
324036
360872
331130
254591
325030
338192
254058
-
-
-
-
-
-
325859
240340
254488
256062
254103
240044
252588
312573
502267
322446
334837
339409
241277
318007
344424
329777
317889
256307
611551
335214
241643
323214
253114
240015
331885
321870
314206
253150
240513
252821
255677
612100
360635
254177
241677

1. Resto Raffles di Jl. Raya Puncak, Gadog
2. Resto Rindu Alam di Puncak Pass, viewnya Oke deh.
3. Resto Lesehan Sinar Alam di Jl. Raya Puncak (sebelum Tugu, klo dari arah Jkt), kira2 50-100 m dari Hotel Permata.
4. Fishing Valley, Resto Lesehan dan tempat pemancingan yg cukup luas. Bisa dilihat di : www.fishingvalley.net
Atau bisa cari2 info t4 wisata, buka di http://www.bogor.indo.net.id/bogor/tmenarik.htm

Gili Gili resto, selain tempatnya enak banget (asal sawah disebelah saung-2nya ngga gundul) J gurame saus thai, ayam goreng kering & nasi timbel-nya endaaang banget dech…J worth to try…

Naik keatas dikit ketemu roti unyil venus…depan roti unyil ada risoles keju carnation yg bersebelahan sama toko roti tan ek tjwan…turun dikit lagi belok kiri ketemu gedung dalem yg terkenal dengan asinan sayur & buahnya…martabak & bandrek air mancur juga okeh untuk jajanan sore/malam hari

Kalo asinan Bogor, aku paling sering beli asinan yg di Jalan Roda, namanya Asinan Gang Aut.
Lebih enak daripada Asinan Gedung Dalem. Di depan tukang asinan ini, ada tukang asinan jagung bakar & bir pletok, yg dulu pernah masuk TV juga.
Kalo asinan jagung bakarnya blm pernah aku coba, tapi bir pletoknya udah. Enak... anget di perut.

Kalo bosen sama roti Venus, mampir deh ke toko roti Bogor Permai. Toko ini menjual roti dgn style jaman dulu & banyak variasi.
Di sebelah Bogor Permai ada juga tukang Toge Goreng cabang PLN. Enak juga...


Di deket asinan gedong dalem ada rujak ulek enak.
Trus ngak jauh dari situ, ada jalan kecil,mirip gang yang mau ke pasar, ada gerobak jualan pisang goreng enak.
Aku demen pisang goreng disitu & rujak uleknya.


Trus pernah coba-2 bikin pisang goreng kayak gitu.
Ternyata adonan tepungnya tinggal ditambahin vanilli powder aja jadi agak-2 mirip sama pisang goreng Bogor itu,hehe...

Tapi kalo pas ke Bogor,bolehlah icip-2 si pisang goreng & rujak ulek disitu.


Kalo mau cari jajanan kaki 5 yg enak2, coba deh ke Jl. Suryakencana, ngga jauh dari Gg. Aut & Jl. Roda.
Ada yg jualan combro yg enak banget, combronya crispy deh, lain dari yg lain. Tapi kalo mau beli, harus antri dulu karena baru digoreng sesuai pesanan.
Ada tukang baso urat Bandung, manisan pala & mangga, ngohiang Bogor, dll.
Pokonya jalan aja di sepanjang Jl. Suryakencana, pas pulang pasti perut kenyang

Belum lama aku ke Desa Gumati di Desa Cijulang no.16 Sukaraja, Bogor. Menurutku kalau mbak ngajak tamu dari LN, mungkin tempat ini bisa jadi menarik karena bentuknya resort dengan fasilitas dan sarana aktivitas yang lumayan lengkap. Jadi bukan sekedar makan gitu. Enakya kalau kesana menurutku adalah dari tol Jagorawi exit tol Sentul Selatan. Ikutin aja petunjuk-petunjuk arahnya. Waktu aku ke sana kelihatannya ada beberapa perusahaan yang lagi ngadain team building/outing. Selengkapnya mungkin bisa ke link ini.


Ada lagi Desa Bumbu yang menawarkan konsep suasana pedesaan. Lokasinya di daerah Cinagara, sekitar 7km setelah keluar tol Ciawi ke arah Sukabumi (gak jauh dari Rancamaya, sebelah kiri jalan tapi agak masuk ke dalam). Masih terhitung Bogor kan? Terus terang aku sendiri blom pernah ke sana. Tapi menurut temenku suasana dan makanannya enak.

Kl ke gumati aku belum pernah…ntar mau dicobain aah…J

tapi ke Bumbu desa pernah mampir untuk lunch, kalau ke arah lido lakes, desa bumbu letaknya disebelah kiri jalan…masuk sekitar 800 meter dari jalan raya…jalannya agak berkelok-2x…menunya kurang lebih sama dengan resto sunda tapi tempat makannya lebih asik daripadi Gili-2x…karma areanya lebih luas dan lengkap dengan kerbau yg sedang membajak sawah… J bener-2x back to nature rasanya…J

menuju Lido banyak bertebaran warung sate maranggi…ada resto terapung juga…dan pemandangan danaunya indah banget….ini sebagian foto-nya…pas ke desa bumbu akhir juni yang lalu…ngantrinya yang males…J

Met wiskul dech…di bogor banyak yang bisa dibedah J

Tiap kali ke arah Sukabumi bawa anak-anak outdoor, lewatin plang Desa Bumbu selalu dalam keadaan habis sarapan, atawa habis makan siang. Jadi batal terus deh. Terakhir pas liburan sekolah kemarin ngajak anak-anak ku camping dan rafting di Citarik.

restaurant Gili-gili : pajajaran sebelum deretan kafe tenda rasa belom tau
tapi ampeir setiap weekend penuh terus
Restoran Sari Wangi : Seberangnya Gili-gili pajajaran juga RM khas sunda
viewnya pemandangan kota bogor rasa lumayan katanya
Restoran Gurih 7 : jalan apa ya namanya lupa dech g... pokoknya yang ke
arah warung jambu Rumah makan sunda modelnya bisa makan di saung or di meja
makan... nasi tutug oncomnya endang euy...
banyak benernya tapi banyak yang lupa...
oh ini Rumah Makan Bu Haji Achmad : ke Arah tajur setelah tas tajur pas di
apa ya namanya lupa lagi dech Kuntum nursery ini makanan sunda juga enak
pisan bakwan udangnya gede-gede udang semua isinya hihihihih.... makan di
sebelah kolam ikan... bapaknya kalo mau mancing juga bisa...

restoran gurih 7 ya di jalan pajajaran juga saaaay, cuma yang arah ke
warung jambu. di kiri jalan, kalo dari arah tol.

gang selot bukan kafe. pleus pemandangan anak2 sma, males bener
promosiinnya. mending qta2 aja dah. kapan2 yuk, maksibar BA bogor, di
selot ajah...

Di bendungan katulampa juga ada lokasi makan sundanese food, pemandangan nya
lumayan lah, ga liat mobil seliweran. Sebenernya kalo mau jalan agak jauh
dikit ke arah ciawi ada desa bumbu, makan ditengah sawah ada kolam (bisa
sekalian mancing) ada tmp outbond dll.. dll..

pia apple pie dah pernah cobain blom mba? adanya dari jalan pajajaran
yg deretan factory outlet itu masuk ke dalem denket sama hotel mirah...
lumayan aja sich gak enak2 banget hehehehehe

macaroni panggang yang di depan Taman Kencana, kalo dari arah
kebun raya bogor pas turunan ke kanan trus nanti ambil ke kanan lagi (lupa
ding nama jalannya... mbak listi, mohon dibantu yak..).
Katanya orang, rasa makaroninya endang estaurina tralalala... plus emang
rame banget... Tapi koq waktu nyoba ke sana, biasa aja ya.. (apa lidahku
yang kuper ama makaroni...)

Trus, sepanjang jalan surya kencana, (ala amigo ==> agak minggir got dikit)
ada es doger, ada soto kuning, ada bakso bening (dekat bank BCA)..

dbc. tempatnya di jalan ciremai ujung,
kayaknya. ya satu kompleks itu (daerah taman kencana), ya ada apple
pie, makaroni panggang (asli biasa banget, mbak sandra. bukan masalah
di lidah mbak kok), ama dbc ini.

cobain bakso bening mbak, campur ama kikil sapi, tempatnya di
deket bank niaga, depannya toko olahraga, disampingnya ada soto kuning juga
yg pakai terpal biru... terus lagi ke arah batu tulis pas pojokan istana
batu tulis ada sayur asem yang enak tuh, tapina jam 13 siang biasana dah
tutup..

tahu Yunyi (rasanya beda lo sama yg di Bandung)
roti sobek Bogor Permai (jual macem2 jajanan Bogor juga)
lumpia basah


Ngetes Emoticons

Saturday, June 23, 2007

Ketika Kita Memandang dengan Sudut yang Lebih Luas

Entah sejak kapan saya mulai mengubah pola pikir, bahwa orang teknik harus belajar teknik dan bekerja di bidang teknik. Mungkin sejak saya bekerja magang di Indosat, ya? Yang membuat saya berpikir lebih luas adalah Pak Sony Teguh Trilaksono, yg sekarang sudah menjabat sebagai Kepala Divisi JBRO Indosat yg berkantor di Wisma Antara Lt. 1. Dulu, Pak Sony adalah salah satu tim SDM Indosat di ITCC, Indosat Training and Conference Center, yang menggodok grup magang saya, PMI (Program Magang Indosat) 1, di ITCC Jatiluhur.

Apa yg telah beliau katakan? Beliau mengatakan bahwa beliau memilih beberapa orang teknik yg menurut beliau berpotensi, untuk dijadikan avant garde, ujung tombak penjualan, alias bergabung dg tim sales, Account Executive (AE). Tanggapan teman-teman teknik yg waktu itu masuk tim AE : "Yah, kok gue di sales sih. Gue kan orang teknik. Ilmu gue gak kepake dong, bisa menguap lama-lama."

Padahal Pak Sony ingin mencoba metode baru, kalau selama ini orang sales adalah murni dg latar belakang pendidikan "menjual", kali ini dicoba bagaimana kalau orang teknik yg diajari "teknik" menjual. Intinya Pak Sony menganggap bahwa orang teknik pasti lebih memahami teknik, sehingga ketika harus mempresentasikan produk kepada pelanggan, mereka bisai lebih PD, lebih fight, dan lebih baik dalam memberikan solusi. Tinggal memoles mereka dengan "gemulai" orang penjualan, dan menghapus kekakuan khas orang teknik.

Well?

Memang bekerja harus dengan hati, atau pekerjaan itu akan membunuhmu. Sebagian besar masih berhati di teknik, sehingga tidak bisa memandang dengan lebih luas, pengalaman atau ilmu lain yg bisa mereka peroleh selama "berjualan". Ada yg sudah menemukan ritmenya di penjualan, namun merasa tidak cukup "dihargai" perjuangannya. Begitulah. Namun buktinya, salah satu teman "teknik" saya, berhasil jadi "penjual" yg baik, tidak hanya berjualan produk Indosat, tapi juga "produk" lain, sampai bisa lebih mandiri tidak tergantung pada office hour, eight to five, atau malah eight to the end of the day... hehehe

Ketika saya pindah ke perusahaan baru, pandangan yg sama masih juga mendominasi. Orang teknik masih merasa lebih berjaya kalau bisa menjadi ahli teknik, dan merasa terhina kalau harus mengurusi hal-hal remeh yg sifatnya non teknik. Aneh... Padahal kalau mereka disuruh mengerjakan hal remeh itu, mengorganisir suatu event misalnya, apa mereka mampu? Mengetikkan Nota Dinas misalnya, apa mereka bisa?

Selama di Indosat sendiri saya jarang bersentuhan langsung dengan bidang tekniknya, walaupun bagian saya berbau teknik, dan lama-lama berbau marketing seiring dg kebijakan transformasi perusahaan itu. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di belakang meja, membuat business plan, menghitung-hitung keuntungan kerugian proyek, membuat presentasi produk untuk pelanggan, sampai menggantikan tugas sekretaris yg cuti, atau membantu bagian pengadaan untuk membereskan file-file mereka. Lalu saya jadi mengerti tentang berbagai hal non teknis yg ikut menentukan kelangsungan proyek teknis, saya mengerti tentang takah surat, saya mengenal lebih banyak orang di perusahaan itu dan di bagian mana mereka berperan dalam proyek dan siapa yg bisa kita mintai bantuan ketika kita perlukan, juga tentang alur pengadaan barang siapa saja yg bisa ikut bidding, dan sebagainya. Saya juga pernah mengikuti training singkat tentang tax, pajak. Sia-sia karena tidak teknis? Tidak! Saya toh jadi mengerti siapa yg harus membayar pajak pada siapa dalam sebuah penjualan antara Indosat dengan perusahaan A misalnya. Saya juga jadi tau macam-macam jenis pajak dan kenapa pajak itu bisa muncul, dan kapan saya terkena pajak itu dan kapan tidak.

Di perusahaan baru, saya tertarik untuk mengikuti training sejenis marketing intelligence. Hey, itu bidang yg menarik. Bagaimana kita bisa menuai informasi tentang kompetitor? Harus bayarkah, ada etikanya kah, atau babat habis? Percuma kan kita unggul di bidang teknik kalau perusahaan kita sering kecolongan informasi penting oleh kompetitor? Berasa jadi James Bond! Itu bukan teknik, jadi sia-sia? Tidak!

Baru-baru ini saya lagi-lagi tertarik dengan artikel yg dibawa pulang suami saya, soal antropolog yg bekerja untuk Nokia! Wew? Antropolog di NOK? What for? Well, Jan Chipchase, the antropologist, merupakan peneliti perilaku manusia yg hasil penelitiannya akan digunakan oleh unit terkait di Nokia dalam mengembangkan aplikasi, layanan, maupun produk NOK. See?

Sudah berapa kali entah saya menuliskan blog seperti ini. Memang saya ambil dari sudut teknik, setjara saya sarjana teknik. Tapi mungkin sudut pandangnya bisa dilihat dari kebalikannya. Misalkan saja, bapa saya almarhum pernah mendapatkan mahasiswi mamah, alias alumni PERIKANAN IPB, bekerja di perusahaan yg sama sekali tidak berikan, TELKOM, BANK DANAMON, BANK BNI, BANK MANDIRI... named it. Beliau sampai terheran-heran, kok bisa? Ngapain juga anak perikanan di perusahaan gitu?

Well, saya sendiri? Latar pendidikan saya di STT Telkom bukan dari jurusan Jaringan Telekomunikasi, Transmisi Telekomunikasi, atau Piranti Telekomunikasi, tapi dari jurusan aneh bin ajaib yg katanya kuliahnya kebanyakan ngayal, Pengolahan Sinyal Digital. Waktu kerja? Gak nyambung sama sekali. Lebih tepat kalau saya bekerja sebagai peneliti atau dosen untuk bidang kuliah saya dulu. Karena hanya di pekerjaan itu saya bisa mengembangkan ilmu saya. Menyesal? Yah, pernah. Bayangkan, orang dengan pendidikan itu paling banter dipandang hebat oleh LIPI. Gajinya? Gak sampe 1 jt untuk pemula. Bandingkan dengan teman-teman saya yg berlatar jurusan transmisi atau jaringan, mereka dipandang hebat di hampir semua perusahaan Telekomunikasi. Mereka bisa jadi ahli optim, mengoptimalkan sinyal BTS perusahaan GSM terkenal dg gaji di atas 5 jutaan. Mereka bisa jadi ahli trafik, menghitung-hitung trafik telekomunikasi yg berhubungan dengan keputusan ekspansi jaringan misalnya. Belum lagi kesempatan jalan ke luar negeri, ntah untuk bejalar, meeting, konferensi, seminar... Ah, flamboyanlah. Lagipula, apa yg kita dapatkan di bangku sekolah/kuliah, seharusnya membentuk pola berpikir dan kepribadian kita, menjadi lebih teratur, metodis, smart, penuh akal, ide, dan keahlian, penuh empati dan terbuka pikirannya pada perubahan yg menuju kebaikan dan kebenaran, bukan sekedar mencari titel dan nilai. Sayangnya yg dikembangkan di Indonesia ini adalah pendidikan berbasis nilai tertinggi, peserta ujian terbaik, lulusan suma cum laude, dan yg hasil akhirnya bisa jadi orang sukses terkenal kaya raya terhormat. Wew... Jadilah hasil akhirnya orang yg terkotak-kotak, atau malah orang yg multitasking tapi gak punya kompetensi yg baik. Saya contohnya. Tapi kemudian saya mendapat pencerahan seperti yg telah saya sebutkan sebelumnya.

Apalagi setelah menikah, saya mendapatkan pelajaran berharga dari suami saya, bahwa kita harus yakin, bukan hanya sekedar tahu, segala sesuatu yg menimpa kita, baik ataupun buruk sudah menjadi ketentuan Alloh atas kita. Kalau kita bekerja dengan niat mendapatkan harta berlimpah dan kedudukan terpandang, dihormati orang, dianggap hebat, maka itulah yg akan kita dapatkan. Namun kalau kita bekerja dengan mengharap ridho Alloh, insyaalloh kita bisa memandang segala sesuatu dengan lebih luas, lebih baik, lebih positif, lebih ikhlas.


@STOCEMPAKAPUTIH

Friday, April 27, 2007

Play Dough, Kenangan Masa Kecil

Gara-gara di milis BA ada yg nanya resep bikin play dough (saya kira tadinya adonan kue apa, taunya...) jadi teringat kenangan masa kecil...

ada yang tahu resepnya play dough yang bisa di bikin sendiri pakai tepung itu????

Waktu di WGC pernah diajarin. Pake terigu sama garam dapur mba. campur terus kasi air uleni terus menerus sampai kalis kalo udah jadi baru kasi pewarna. Pewarnanya khusus, beli di gramed yang kalo kena baju bisa ilang dan dicampurin ke adonan warnanya tetep bagus.

kalau aku cuma pakai tepung beras ketan ditambah pewarna makanan terus air secukupnya dan sedikit minyak supaya play dough nya agak licin. Tetapi dak bisa di pakai lama2 alias harus dibuatin terus setiap mau main karena cepat rusak (berjamur).

Cuma tepung, air, garam plus pewarna (pewarna kue aja). Dah diuleni taruh dulu di kulkas. Baru bisa dipake.

itu kan bisa dibentuk macem2... digiling tipis trus dicetak2 kayak bikin kue kering juga bisa... makanya cocoknya buat anak di atas 3 tahun yg udah gak demen masukin benda2 ke mulut lagi


baru denger tuh ada playdough yang bisa dimakan??!!! setahu ku sih kalo play dough yang buatan pabrik gak ada yang bisa di makan, paling safe aja dari segi pewarna dan bahan doughnya..tapi bukan untuk di makan....play dough sih bahasa kerennya untuk "lilin malam" jaman saya kecil dulu....ya bisa untuk latihan motorik halusnya si kecil sambil balajar bentuk dan warna...begitu deh kira2

aku punya 1 set play dough ini, tapi blom sempet dibuka,s ecara masih bingung ini mainan apaan sih?? kok katanya bisa dimakan???

bukan maksudnya untuk dimakan tapi kalau termakan tidak berbahaya karena non toxic, tapi tidak semua playdough sih yang aku tahu yang merk nya Play-Doh. Mainnya ya buat dibentuk macam2 sesuai kreativitas n imaginasi si anak, kalau beli yang satu set biasanya suka ada cetakan nya atau gunting2an atau roller nya dll.

Dulu, waktu masih kecil, saya senang bermain "lilin maenan" apa ya namanya, yg jelas warna warni (tapi warnanya gak pernah cerah, selalu gelap, merah tua, hijau tua, biru tua, hitam... dan begitu terus gak pernah berubah sampe sekarang. Saya masih suka liat di Galura, deket rumah, mau beliin buat Auliya takut dimakan! Hihihi). Selain senang karena sensasi memegangnya, saya juga senang baunya. Selain itu saya senang bisa membentuk apa saja yg saya mau. Entah bagaimana, saya malah sering berulang kali minta dibelikan lagi, kalau bisa yg besar (ada yg ukurannya lebih besar), tapi mamah selalu memberikan yg kecil-kecil, harganya 2500 kalo gak salah dulu itu, ato lebih murah ya? Lupa juga. Cuma kalo lagi gak sempet keluar, mamah suka bikinin tepung maenan, saya blm tau dulu kalo disebutnya play dough. Yang jelas dari tepung terigu, gitu kata mamah. Saya suka liat pas mamah bikin di dapur rumah 70. Setelah bikin satu adonan besar, terus mamah bagi-bagi, dikasih pewarna, mirip sama warna lilin maenan. Tapi pewarnanya pewarna makanan. Maeninnya gak sama dg lilin maenan, kalo tepung maenan ini dicetak-cetak pake cetakan kue kering, mamah yg beliin, bentuknya macem-macem, ada bebek, beruang, hati, lingkaran... Lama-lama setelah saya makin besar, tepung maenannya bukan dimaenin tapi digoreng, jadi tepung goreng... enak juga kok, gurih, cuma ditambah gula dan garem aja. Hihihihi....

Tuesday, April 17, 2007

Bogor : Jalanan Amburadul dan Macet

[sigh]

Seorang calon bapak bertanya di milis BA. Kalau istrinya mau lahiran di Hermina Bogor, kira-kira gimana kondisinya? Bapak itu tinggal di Nanggewer. Tanggapan saya sendiri sih seputar masalah biaya aja, saya gak gitu tau di mana itu Nanggewer. Kalau ibu-ibu yang tau, komentarnya : Lebih baik jangan deh, Pak. Bisa lahiran di jalan, soalnya jalanan dari Nanggewer ke Hermina rusak berat.

Yup, itu dia masalah yg setiap hari saya temui di perjalanan dari rumah ke mana pun di Bogor. Macet, dan jalanan rusak berat! Amburadul! Bayangkan, jalanan bisa berlubang sebesar mobil, dengan kedalaman bisa sejengkal tangan saya! Belum lagi pengemudi angkot yang gak sabar menunggu mobil-mobil dan motor-motor di depannya yg bergerak sangat lambat karena menghindari "lonjakan" yang diakibatkan oleh lubang-lubang jalan itu. Mereka memicu terjadinya kecelakaan! Ini paling sering terjadi di Jalan Baru (Kedung Badak), yang lubangnya super besar, super banyak, dan super dalam! Kalau hujan, becek, gak keliatan mana lubangnya, lebih bahaya lagi. D pernah pulang dari Yogya Jalan Baru, angkot 32nya mau tabrakan karena supirnya gak sabaran di jalurnya dan berpindah ke jalur yg isinya kendaraan yg berjalan ke arah sebaliknya (dan jalannya lebih bagus)! Saya sendiri juga pernah mengalaminya, pulang kantor turun di Stasiun Cilebut, pas ganti angkot 32 yg nyebrang ke jalur lawan, mau tabrakan sama truk! Sigh....

Jalanan yg amburadul di antaranya
di Jalan Baru (Kedung Badak), Jl Soleh Iskandar, Jl Cilendek (atau dr Semeru ya?), Jl Nyi Raja Permas, Jl Mayor Oking, Jl Baru (ke arah Sindang Barang), Jl Pasar Anyar... mmm mana lagi ya. Suami bilang, GESTREK. Yang jalan protokol sih okeh banget, macem Jl Pajajaran, Jl Sudirman, Jl Juanda... Kalaulah Walikota dan Wakilnya ada yg tinggal di Taman Sari Persada misalnya, barangkali Jalan Baru Kedung Badak itu bisa lebih halus dan mulus. Masalah jalan rusak ini sudah pernah dimuat di Radar Bogor, tapi kalau belum sampai ke headline koran nasional, belum kesentil kali ya?

Lain jalan amburadul, lain lagi macet. Penyebab utamanya sih angkot sepertinya. Lautan hijau tiada akhir itu, kalau berhenti tidak pernah mengenal yg namanya badan jalan, bahu jalan, pinggir jalan... Taunya berenti, nyek, penumpang naik. Berenti, nyek, ngetem nunggu penumpang. Peduli amat orang di belakangnya bisa lewat, terhambat, atau malah macet berkepanjangan. Yang naek motor juga seneng nyelip-nyelip, gak sabaran (kalo sabar nungguin macet, ngapain beli motor?!), tau-tau udah mampet deh jalannya karena antara motor dan beca dari arah berlawanan bertemu di satu titik kemacetan, tanpa ada ruang gerak lagi. Siiip, mantabs! Belum lagi pedagang dari pasar yang menghabiskan jatah jalan kendaraan, terutama di pagi buta.

Kapan gak macet? Kalo ada polisi yang jaga. Kapan polisi jaga? Kalo gak ujan, kalo lagi mau jaga, sebelum malam datang, sesudah mentari bersinar terang, kalo lagi cari mangsa?! (ah kalo cari mangsa mah terlalu buruk sangka, kali ya...)

Kapan pasarnya tertib? Kalau ada pol PP. Kapan ada pol PP? Kalo lagi ada perintah penertiban, kalau pada belum "bayaran"?

Kapan jalanan rusak dibetulkan? Itu jalan milik pemerintah, atau milik developer tertentu, atau gimana ya? Ada retribusi, tetep aja jalanan angkot rusak. Cuaca Bogor yang seringkali hujan juga mempengaruhi ketahanan jalan ya. Kalau setiap hari selama sebulan terus menerus diguyur hujan, lama-lama kegerus juga. Jalanannya kelas berapa sih? Aspalnya bukan aspal dari Buton kali ya. Gak dihotmix, asal nempel aje. Kalo benerin jalan di musim hujan katanya percuma, baru dibangun bentaran lagi jebol... Nah kalo udah mulai panas tiap hari gini, udah waktunya dong betulin jalan?

Saturday, February 24, 2007

Kios Kerudung Tara-nya Mbak D

Mbak D, istrinya Mas M, ternyata sudah jadi pebisnis sukses, paling tidak di sektor perkerudungan. Punya kios (atao penyuplai aja ya?) Tara di PGB, buka bisnis bareng temen-temen katanya. Menurut Mas M sih, sekarang istrinya sudah tidak pernah minta uang bulanan lagi, malah kebalikannya, Mas M yg suka minta "tambahan".

Dulunya, Mbak D kerja di Seaworld. Setelah menikah dan punya anak, Mbak D berhenti kerja dan lalu mengurus anak-anaknya. Usaha pertamanya adalah membuka toko kelontong di deket Bubulak (tapi sekarang udah tutup aja, mungkin udah gak rame yah). Dulunya dia yg menjaga, sekarang udah orang laen yg jaga.

Kalau soal toko kerudungnya, katanya sih Mbak D bikin sendiri kerudungnya. Mungkin punya konveksinya juga ya. Kalo bahan, katanya sih belanjanya dari Bandung. (heu, yg kebayang langsung Pasar Baru, sama daerah kaen kiloan- duh lupa namanya). Yang jaga toko kerudungnya juga bukan dia, tapi ada pegawainya.

Kemaren sore, setelah terjebak hujan deras, mamah dan teteh belanja ke sana, dapet kerudung 4 biji, yg katanya sih model baru dan baru aja naek pajang. Si teteh beli kerudung 2 in 2 (setjara ada 2 buah kerudung-satu bermanik pendek,satu polos panjang) yg bisa dipake model biasa (kerudung pendek bermanik dipake dulu terus ditimpa sama kerudung polos panjang yg dipasang setelah manik di kepala) atau model baru (kerudung polos panjangnya dipake miring, di bawah leher, jadi kaya pake vasmina gitu... Kalo belinya banyak, bisa dapet diskon. Misalnya kerudung harga satuannya Rp 45.000,- kalo beli lebih dari satu bisa Rp 40.000,- Hmmm wondering, kalo belinya satu lusin, kira-kira bisa dapet Rp 25.000? Hehehe (ngelunjak.com)

Kalo kata si teteh, buat sewa tempat usaha gitu, bisa minta pinjeman dari Pertamina ato PN Gas. Katanya sodara jauh ada yg gitu. Tapi lebih oke lagi kalau memang ada yang kerja di sana, ngalirnya lebih cepat dan mudah, karena ada "penjamin". Besarnya uang bisa sampai 70an juta. Cicilannya dg bunga 0%. (Bunga 0% kalo cicilannya per bulan tinggi, sama mencekeknya gak sih?). Setelah mengajukan proposal usaha, nanti ada dari pihak koperasi perusahaan tsb yg akan melakukan survey ke lokasi usaha. Kalalu proposalnya dinilai layak, baru deh dikucurkan dananya.

Nah, gimana, berani keluar dari comfort zone?

My Bozz Owned A Bakery!!!

My Little Bozz had a bakery!
Gak nyangka... Ini ketauannya juga gara-gara saya "pamer" foto roti di avatar YM (meskipun ada yg mikir itu foto keong, plis deh). Ternyata si bos beneran punya bakery. Nama dagangnya Tania. Katanya sih gak ada tuh roti yg mereknya nama pria, tapi kan ada Roti Boy? Hehehe...
Eniwei, niatan yg udah lempeng pingin bisnis, jadinya mencoba sedikit mengulik-ngulik si bos.

"Pak, beneran ya punya toko roti?"
"Hehehe.. Iya."
"Mmm itu bikin rotinya pake mesin?"
"Iyalah mbak, ada mesinnya."
"Trus adonan rotinya tinggal dimasukkin ke mesin gitu ya, Pak?"
"Oh ya nggak mbak, adonannya tetep pake tangan bikinnya."
"Heee? Bikin adonannya pake tangan juga pak?"
"Iya, nguleninya pake tangan. Satu adonan untuk kira-kira 125 roti."
"Heee? Njarem ntar pak tangannya."
"Hahaha..."

Nah, begitu ternyata. Untuk ngulenin adonan roti sampai kalis, tetep aja pake tangan, artinya, tenaga manusia. Yang menjadi pertanyaan, apakah ada orang khusus yg tukang ngulenin, ato ada beberapa orang? Apakah 125 roti itu untuk sehari? Mosok iyo ya sehari cuma jualan 125 roti?

Rotinya si bos ini sempat masuk ke Plaza Indonesia lho, padahal si bos gak buka konter di sana. Ternyata sih ada orang yg beli terus njual lagi di PI. Wuiiih keren nih...

Monday, February 05, 2007

SALE : Air, Bah!

Tersedia : kiriman air Paket Siaga I UDP (belum ack sudah kirim lagi...). Ongkos kirim gratis. Bonusnya sampah. Lama pengiriman 6-10 jam.

Kesel juga lama-lama karena bolak balik diomongin sebagai pengirim banjir. Gak ngirim kok, emang air kan mengalir dari daerah tinggi ke daerah rendah. Orang Bogor juga gak sholat minta hujan turun terus menerus. Orang Bogor juga gak mengatur air hujan biar ngalirnya ke Jakarta. Emang di Katulampa ada bendung, kata petugasnya ini BENDUNG, bukan BENDUNGAN, dibangun oleh Belanda HANYA untuk mengukur ketinggian air di Ciliwung, bukan untuk membendung air yg mengalir keluar dari Bogor. Ehueeee... Ada loh yg sampe minta putus dari pacarnya karena kesel dibilang pengirim banjir

Yang jelas bukan ORANG BOGOR yg ngirim banjir. Alloh yg menurunkan hujan. Sudah hukum alamnya, air mengalir dari daerah yg lebih tinggi ke daerah yg lebih rendah. Manusia yg membangun jaringan air, untuk mengalirkan air ke laut. Manusia yg membuang sampah ke sungai atau jalur air lain dan menghambat aliran airnya (saya jadi inget pak satpam di kompleks yg menyapu daun kering masuk ke dalam saluran got ). Manusia yg membangun bangunan tanpa mengindahkan daerah resapan air. Dan MANUSIA =! ORANG BOGOR aja kan?

Sama-samalah introspeksi. Kemaren buang sampah di mana? Rumahnya ada di daerah resapan air? Punya kontribusi merusak daerah puncak dg membangun vila di sana gak? Masih beriman gak? (Kalo masih beriman, siapa tau ini adalah cobaan, ujian untuk naek tingkat, menjadi manusia yg lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh karena kesabaran dan ketakwaan, kalo sudah mulai luntur keimanannya siapa tau ini adalah peringatan agar kita kembali ke jalanNya yg lurus dan benar)

Sebagai orang Bogor, yg daerahnya gak kena banjir, saya bukannya jumawa, "Nah, makanya, punya rumah di Bogor aja..." tapi penuh kekhawatiran, kapan giliran kami? Juga empati, pada sodara-sodara yg tertimpa musibah banjir. Semoga Alloh meringankan beban mereka. Di kompleks kemaren sempet ada edaran juga untuk mengumpulkan dana bagi korban banjir. Bukan karena rasa bersalah karena banjir mengalir dari Bogor ya, tapi sebagai bentuk kepedulian pada sesama...

alladzii khalaqa almawta waalhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan wahuwa al'aziizu alghafuuru
Dia Yang Mematikan dan Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS 67: 2)

huwa alladzii ja'ala lakumu al-ardha dzaluulan faimsyuu fii manaakibihaa wakuluu min rizqihi wa-ilayhi alnnusyuuru
Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.(QS 67:15)


walaa tufsiduu fii al-ardhi ba'da ishlaahihaa waud'uuhu khawfan wathama'an inna rahmata allaahi qariibun mina almuhsiniina
Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS 7: 56)

walaw anna ahla alquraa aamanuu waittaqaw lafatahnaa 'alayhim barakaatin mina alssamaa-i waal-ardhi walaakin kadzdzabuu fa-akhadznaahum bimaa kaanuu yaksibuuna
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS 7:96)

afa-amina ahlu alquraa an ya/tiyahum ba/sunaa bayaatan wahum naa-imuuna
awa amina ahlu alquraa an ya/tiyahum ba/sunaa dhuhan wahum yal'abuuna
afa-aminuu makra allaahi falaa ya/manu makra allaahi illaa alqawmu alkhaasiruuna
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.(QS 7:97-99)

awa lam yahdi lilladziina yaritsuuna al-ardha min ba'di ahlihaa an law nasyaau ashabnaahum bidzunuubihim wanathba'u 'alaa quluubihim fahum laa yasma'uuna
Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)? (QS 7:100)

wa-idzaa quri-a alqur-aanu faistami'uu lahu wa-anshituu la'allakum turhamuuna
Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.(QS 7:204)

waudzkur rabbaka fii nafsika tadharru'an wakhiifatan waduuna aljahri mina alqawli bialghuduwwi waal-aasaali walaa takun mina alghaafiliina
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS 7:205)

Sunday, January 07, 2007

3 Jam Lagi Menuju Posko Usai

Duh, mau ngeMPi ternyata lagi maintenance. Jadi kembali deh ke habitat lama, Blogspot!
Lagi posko Nataru (Natal dan Tahun Baru), biasa, 8 jam dari jam 8 pagi sampe jam 8 malem. Nah, sekarang udah jam setengah 6 lewat nih, asik, tinggal 2,5 jam lagi... Alhamdulillah. Ini hari posko terakhir, dan tadinya pingin cuti besok, sayangnya ada acara sosialisasi! Uhuks...

Thursday, November 23, 2006

Belajar Naek Motor

Kenapa ya anak kecil (SD kelas 6an kali ya) bisa naek motor dg santai sedangkan saya belajar motor gak bisa-bisa secara kalo liat ketemu sesuatu dari arah berlawanan (mobil/motor/orang) suka berasa mau nabrak aja? Ato kalo ada "temen" sejalan di belakang berasa gak tenang?

Waktu belajar motor pertama, di Menteng Asri, komplek perumahan yg asik buat belajar motor, baru belajar udah ketemu anak kecil yg bisa naek motor. Dia nyalip pula. Udah gitu berasa dia jadi ngikutin dan "ngece'i" secara di setiap belokan kayaknya ketemu dia lagi dia lagi. Waktu udah lancar naek motornya, eh ketemu dia lagi, tapi bukan lagi naek motor, MOBIL! Gubrags!!! Kok bisa sih kalah 0-2 gini... Udah gitu sering keleru arah puteran stang yg ngegas sama yg nggak. Jadinya maksud hati mau melambat malah jadi ngegas! Duh duh, kenapa sih arah puteran ngegas itu ke arah dalem, berasa mau ngerem... Setelah lebih lancar lagi, tetep takut-takut kalo mau belok, berasa ada yg mau nabrak ato mau ditabrak. Udah gitu kalo liat orang suka ngerem mendadak sampe suami yg "mandu" dari belakang ikutan "terdesak" ke depan, dan alhasil dada sakit karena kena stang motor. Dan sialnya dituter sama anak kecil yg lagi boncengan motor (beda sama anak yg pertama). Malu-maluin, tapi tetep semangat!!!

Setelah itu jarang lagi naek motor, karena blm boleh "bertarung di jalan besar" sama misua. Takut istrinya ngebut dia, secara istrinya ini bawaannya gak sabaran....

Nah, setelah pindah ke Yasmin, mulai lagi belajar motor. Heeeh, ternyata udah lupa lagi. Kunci masuk sampe normal, pencet starter, normal ilangin, masuk gigi satu, gas!!! Setelah beberapa puteran udah mulai apal lagi, kalo mau naek gigi jgn digas, ntar loncat.

Pas mamah, Auliya, ma misua lagi senam jantung sehat (yg ternyata aerobik biasa ) nekat ngeluarin motor, sampe ampir ketiban pas turun di turunan dari teras ke carport. Dengan susah payah berhasil mengeluarkan motor ke jalan. Nah, pas jalan ini nih, puyeng, serba takut nabrak dan jatoh. Udah gitu ngelewatin portal satpam ada jalur khusus motor, udah berasa mau nabrak dan gak bakal "lewat dg selamat", jadinya berenti terus ngegoes pake kaki (lu kira itu sepeda pancal! ). Nah, pas mau masuk ruko tempat senam jantung sehat, ada angkot 32 pas di pengkolan, jadinya dieeeem aja gak bergerak. Untungnya misua keburu ngeliat dan nyamperin sama Auliya. Tapi dg gayanya saya mulai bergerak melewati angkot yg ngetem, eh dituter mobil-mobil dan motor yg lewat dg kencangnya, ketakutan, malah mati deh motornya Terusan deh dituter orang... Tambah panik, misua mendekat, langsung loncat turun minta dibonceng

Setelah itu, setiap ada libur, paginya disuruh ngeluarin motor ma misua, dapet 1-2 keliling, biar lancar. Tapi kayaknya tetep aja tuuuh takut. Pernah lagi keliling ketemu mobil, malah nyangkut di "polisi tidur" saking takutnya. Duuuh kayaknya gak bakal bisa nih PP naek motor ke stasiun, padahal kalo pulang bisa naek motor enak bener deh, cepet, gak bolak balik ngetem. Kalo misua malah pingin beli satu lagi motor, biar kalo dia pulang gak bareng saya gak usah jemput dia... Heee ngimpi aje dulu deh...

Makanya suka heran kalo pas dibonceng liat anak kecil dengan lancarnya naek motor. Gak kenal takut... Heeeeee... APA SIH RAHASIANYA?!

Saturday, November 11, 2006

Ketika Ayahku Pergi

Ketika ayahku pergi, aku berhenti memikirkan diri sendiri.
Aku mulai memikirkan bagaimana ibuku? Bagaimana aku bisa membahagiakannya, sebelum terlambat. Bagaimana aku bisa berusaha sekuat daya untuk mewujudkan apa yg ada dalam hatinya, seperti ia mewujudkan impian masa kecilku. Sehingga aku tidak terlambat seperti saat ayahku ingin sebuah peci dari Aceh. Aku tak sempat membelikannya...

Ketika ayahku pergi, aku mulai memikirkan apa yg bisa kulakukan dari jauh sini, untuk tetap menyampaikan kasih sayangku padanya, dengan cara yg benar tentunya. Karena dia telah melakukan segalanya untukku semasa hidupnya. Menjemputku dikala hujan, berjuang hidup untukku...

Ketika ayahku pergi, hatiku sedih. Tapi aku tak bisa menangisi kepergiannya, karena ayak tak suka anaknya menangis....

Monday, October 30, 2006

Isin ka Gusti 4JJI

Isin ka Gusti 4JJI, naha atuh geus dipasihan rijki jadi pegawai sholatna masih karunghal ku nu TLH (Tenaga Lepas Harian)? Padahal insyaalloh mah gajina leuwih ageung ti TLH. Kirang yeuh syukurna ka 4JJI.
Hampura ya 4JJI....

Pindahan Rumah...

Alhamdulillah... kata pertama yg terucap setelah selesai pindahan.
Lebaran-lebaran, orang menikmati cuti panjang, kita sibuk pindahan. Gak enak, udah diomongin aja, "Gimana rumah teh? Kan saya perlu uang buat lebaran..." Padahal udah diijinin waktu itu buat pindah setelah lebaran, tapi yaaaaa udah lah, toh ini juga udah lebaran. Agak maksakeun maneh juga, secara orang-orang lagi pada libur, material pada tutup... Bismillah, dg memohon bantuan dari yg Maha Pemurah dan Maha Penyayang, nekat deh pindahan. Mengandalkan THR, alhamdulillah pas, pun setelah mesti nambah daya (dari 900W ke 1300, mahal juga di Bogor, 2 taon lalu masih Rp 250.000, sekarang Rp 500.000, jd inget sama temen yg didenda sama PLN karena dianggap melanggar, meterannya MCBnya palsu, padahal dia udah bilang, "Lah, kan yg masang orang PLN Pak, bukan saya? Gimana sih? Masa saya beli MCB sendiri masang sendiri? Kesetrum kan gawat Pak.")

Mau nyewa engkel (baru tau nih istilah ini heheh) ternyata baru bisa dipake Minggu, bisa gawat dunk kalo baru Minggu pindahan, secara Senennya kan udah masuk, piket posko lebaran pula (teng teng jam 8 malem deeeeh). Bisa teparrrrrrr... Maunya sih Sabtu, tapi ternyata gak ada yg bisa. Ada yg bawain mobil material hari Jumat, tadinya cuma mau liat dulu segede apa mobilnya dan ditawar dulu harganya, tapi ternyata cuma dia alternatifnya dan dia tetep gak bisa Sabtu, bisanya hari itu juga, karena Sabtu materialnya buka. Ihiks, jadi yg rencananya Jumat mau kemas-kemas (eh jadi inget nama himpunan di STTT dulu, KEMAS, kalo lagi open house jualannya mpek-mpek enak... ), biar Sabtu tinggal angkut, jadinya ya kemas-kemasnya hari itu juga. Yang dipindah baru barang-barang besar macem lemari, meja, kulkas, mesin cuci... pokoke yg besar-besar deh. Buat barang-barang printil nyewa mobil lagi besoknya, kaya komputer dll. Karena gak ada pembantu, gak ada sodara yg bisa bantu juga da pada lagi lebaranan liburan ke sana sini, jadinya semua dikerjain sendiri di hari Jumat. Bude ada telepon hari itu pagi-pagi, nanyain lemari jati warna ijo (yg ternyata warna biru telor asin), "Itu peninggalan eyang dulu. Jangan sampe dijual sama mamang yah. Maaf lho, jgn tersinggung." (Gak tersinggung sih bude, cuma bingung kenapa ya kita ini selalu terikat dg benda peninggalan? Saya ini beres-beres juga nemu barang ini itu, terus malah jadi lebih lama karena mengenang-ngenang barang peninggalan bapa, inget bapa sedih dulu, kerja lagi, yg tadinya udah mau disingkirkan aja dikasih ke orang yg perlu daripada menuh-menuhin rumah padahal gak guna, akhirnya dimasukin lagi, nimbangnya lama sampe itu dikeluarin lagi. Ibu bilang, "Ini saatnya untuk belajar mengikhlaskan barang.."). Ada mang Ade (supir angkotnya bapak dulu, sekarang udah sukses jadi pedangang bensin, dan kerja di Lakeside, udah bisa nyekolahin anaknya di sekolah kepolisian yg katanya biasanya sampe 65 juta! Beberapa taon sebelumnya sempet gagal karena "uang masuknya" gak ada stok sampe 10juta lebih, minta tolong bapak ya sama aja, dari mana uang sebanyak itu, mohon maaf...), bi Piah (istrinya), dan Rian (anaknya yg bontot). Padahal mereka niatnya mau lebaranan, tapi karena baek hati jadinya malah bantuin pindahan. Rian malah njagain Auliya. Untung ada Aa Rian, kalo nggak repot deh, barang yg udah masuk ke dus dikeluarin lagi, jadinya tambah banyak kerjaan. Tapi dg adanya Rian ini, Auliya diasuh dg baik, maen aja berdua anteng. Sampe Auliyanya tidur siang, bangun dan maen lagi. Sempet keselang ujan, sempet ngenes juga karena meja dan lemari ada yg lecet, secara yg mindahinnya agak "kasar". Alhamdulillah semua barang yg mau dibawa bisa masuk dg sukses di rumah baru, ditata sedemikian sehingga muat semua, walaupun ada yg saling silang dan mesti saling geser baru bisa buka pintu lemari... hahaha.. Alhamdulillah, pindahan barang besar sukses, walaupun sempet keselang ujan besar dari jam 4 sampe isya (dan ketauan ada yg bocor di kamar mamah, jadinya manggil tukang lagi buat nambel, musim ujan bow, kalo gak segera dibenahi bisa banjir rumah ntar). Malemnya tidur dg sukses, berasa pengungsi deh, yg ada cuma selembar kasur buat berempat... hahaha. Seru...

Sabtu pagi, bangun kesiangan. Badan berasa patah jadi seratus. Tapi kerja harus berlanjut. Dapet bantuan yg tidak diharapkan dari seorang tetangga, yg dari dulu emang sering bantu-bantu mbah. Cuma ya itu, bukannya bikin cepet beres malah bikin kesel. Alhamdulillah sih ada yg bantu nyapu dan bebersih, cuma dia suka ga nanya dulu, tau-tau udah dimasukin jadi satu ato diberesin. Seperti anduk-anduk yg lagi dipake, dimasukin kardus bekas yg kotor, yg kemarennya udah ditolak buat jadi tempat buku, karena itu bekas pelumas, takutnya nempel di buku. Eh, ini malah jadi tempat anduk bersih! Sabar....sabar... udah untung ada yg bantu, kan? Udah gitu majalah dan buku yg udah dipisah buat dibuang malah disatuin lagi sama kertas-kertas kuliah mamah... Sabar... sabar... Selain tetangga itu dateng juga bule', kirain mau bantuin ato nengok ngasih semangat, ternyata, "Saya mau ngambil kunci inggris, ada di peti item. Jangan-jangan udah dijual yah?" (aduuuuh ngapain juga saya jual kunci inggris?). Udah gitu bule' ini sibuk nyari barang-barang peninggalan eyang kakung yg takutnya ditinggal dan dijual sama sodara ibu yg laen, ato malah dikasihin ke orang. Ada radio tape sony, nah ini yg paling banyak peminatnya, dari bule, tukang sayur yg dateng kemudian untuk bantu-bantu, sampe ke tukang yg benerin rumah. Mesti bolak balik ngomong bahwa benda itu udah lama rusak, tapenya suka ngegaret kaset sampe gak bisa diputer lagi di tempat laen, radionya udah gak bener tuning digitalnya, voltasenya pun 110V! Itu radio dari jaman saya masih SMP! Rusak pas saya masih kuliah di Bandung. Ada mesin tik dan tike r yg akhirnya diincer bude (maaf ya bude, blm sempet dianter, gak sempet). Mamah sih udah kesel aja, "Kirain mau bantuin, ternyata malah ..." Sabar... sabar... Oya, Mang Uki, tukang sayur langganan ibu bertaon-taon, ikutan bantuin. Masuk-masukin barang ke kardus sesuai permintaan, sambil bersih-bersih rumah, "Neng, itu anak-anak yg bantu di sini kerjanya ngapain aja sih? Rumah kok kotor begini. Masak kan gak banyak, tau mang uki mah kan belanjanya juga dari mang uki." Hehehe, iya tuh, mereka kalo nyapu or ngepel gak pernah sampe ke balik tiker, kolong lemari/kasur, cuma yg tampak oleh mata aja... hahaha. Ada pak RT yg "ketangkep basah" abis ngambil selang air (tau gak sih, selang itu mahal ternyata, itu ibu beli 1m nya Rp 20.000!). Saya cuma liat kelebatannya aja, kok ada yg masuk ya? Trus keluar lagi dg jalan secepat kilat, tapi masih ketauan kalo itu pak RT, "Pak, kok selangnya dibawa?" Beliau nyaut, "Oh, katanya udah gak kepake lagi?" Halaaah kata siapa ya? Akhirnya saya crosscheck ke ibu, katanya, "Nggak kok gak bilang gitu..." Yah, gitu deh tetangga di sana. Mang Uki sempet-sempetnya komentar, "Kok pejabat gitu yah. Gak ada ibu kan ada eneng anaknya. Paling nggak nanya kek." Makanya kalo pindahan gini mesti diawasi dg ketat. Ada Mbat juga yg bantuin ngangkat barang ke mobil. Kalo udah surat-surat berharga dan barang elektronik, yg bawa langsung misua... Hati-hati aja sih, bahasa asingnya : Precaution...

Pindahan pun selesai jam 5 sore. Auliya selama itu dibawa enin ke Yasmin. Untungnya ada Mang Dadan dateng sama Tante Ririn, jadinya ada yg "nyo'o". Masih banyak barang yg ditinggal juga sih, yah beberapa mau dibawa ibu ke kantor aja, gak muat lagi di rumah ini. Besarnya gak imbang, 1:3! Pada dasarnya saya ini orangnya perfectionist, jadinya gak bisa berenti sebelum semuanya beres. Cuma tuntutan biologis aja yg bikin saya berenti. Itu pun setelah berhasil membongkar semua pakaian masuk ke lemari. Yang laennya lanjut besok deh. Karena blm bisa masak-masak kecuali masak air (belum ketemu tuh wajan panci di mana) jadinya malem-malem beli makan Sate Tegal, 2 sate ayam, satu sate kambing. Enyak... Lumayan mahal sih, 39.000 rupiah 3 bungkus sama nasi.

Minggu pagi, sibuk deh. Memecah semua kardus ke tempat asalnya, dan mendiamkan kardus yg isinya tidak bisa muat di lemari mana pun. Hahaha.... Buku-buku novel dan komik saya terpaksa nunggu di kardus (ihiks, gak bisa baca deh, ah, gak sempet pula lah). Sambil mindah-mindahin barang, sambil nyuci baju juga. Maklum itu cucian 3 hari! Tangan sampe njarem pas bangun tadi pagi. Karena gak cukup juga tempat njemurnya, akhirnya masih menyisakan satu tabung cucian bawahan (sarung, rok, celana dkk). Biar pagi ini dijemur sama misua deh. Sarapan pagi beli bubur. Siang udah bisa masak nasi, cuma blm bisa masak lauk, gak ada bahan. Hahaha. Mamah sibuk nyuci piring sambil bilang, "Kok bau kebakar yah?" bolak balik. Eeeeeh pas jamnya makan siang, ada tetangga dateng, nganter makanan, ayam bakar sama puding coklat. Alhamdulillah.... Rejeki 4JJI dari arah yg tak terduga... Malemnya beli pecel ayam (yg jual katanya orang Tegal juga... halaaah). Cucian baru kering tadi pagi, jadi mamah deh yg kebagian. Tapi sebagian besar kardus di ruang tengah (eh, semuanya itu jadi satu ruangan dink, cuma berasa aja ada di tengah rumah... hahaha) udah masuk ke tempatnya. Masih banyak kardus lain menanti di bawah meja makan, dan masih banyak "missing things"

Alhamdulillah, 4JJI telah memberikan kemudahan bagi kami sekeluarga, sebuah rumah, tangan-tangan pembantu di kala pindahan, dan tetangga yg baik. Segala puji hanya bagi 4JJI. Sungguh 4JJI itu dekat... Laa taHzan innallooha ma'ana...

Tuesday, October 10, 2006

Piket Lagi... Lagi-lagi Piket...

07/10/06
Piket! Piket paling menyenangkan adalah piket Sabtu, karena Seninnya libur, jadi gak perlu terjebak dalam rutinitas Senin : jalanan macet, kereta yg penuh sesak, pekerjaan yg tiba-tiba mbludak! Hanya saja piket Sabtu penuh dengan kengerian ”gangguan di detik terakhir akan pulang”, yg mengakibatkan ”extended working hour” (kalo di hari kerja biasa mah sering banget. Temen2 cewe yg kosannya deket kantor malah sering pulang di atas jam 9 malam! Huweks!). Dan hari itu gangguan paling menegangkan adalah jatuhnya 17 trunk di beberapa daerah (tangerang, semanggi, gambir, buish, dan tanjung priok). Dan orang yg paling menyebalkan adalah petugas care centre yg ”kurang lihai”. Persoalan yg sama sudah mendapat jawaban yg sama sejak Jumat sore, namun terus menerus ditanyakan lagi dan lagi. Heeeh...
Hari Sabtu saya kira tidak perlu beli tiket di awal, karena penumpang balik ke Bogor pastinya gak seramai kalau hari kerja, karena yg perginya dari Bogor pun Cuma sedikit. Tapi perkiraan saya ini salah, karena sewaktu pulang, saya harus berdesakan di depan loket. Hanya satu loket yg dibuka dan itu untuk karcis ekonomi dan ekspres! Hebat deh St Gondangdia ini. Yang lebih hebat lagi calon penumpangnya, gak ada kesadaran sama sekali buat antri! Saya yg biasa langsung berdiri di belakang orang terbelakang dari antrian karuan bingung, kenapa yg beli karcis ini gak pake antrian tapi rebutan langsung di depan loket? Orang yg baru datang pun gak langsung ngantri di depan saya, tapi langsung rebutan di depan saya! Barbar! Bisa dibayangkan kalo ini adalah pembagian BLT, bisa kacow dunia persilatan. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 16.15! Jadwal kereta Pakuan saya jam 16.14, yg pastinya agak ngaret dikit (kalo bukan hari kerja biasanya telatnya gak Cuma beberapa menit dan kadang malah selalu tepat). Saya lalu merasakan kekesalan si penjaga karcis kalau kita bayar dengan uang besar, karena ibu di depan saya yg membayar dengan uang 50ribu untuk karcis Pakuan 11ribu. Petugas loketnya bilang, ”Ada seribu, bu? Cepetan bu, ini keretanya udah di Gambir.” Halaaah, saya langsung aja nyedek di belakang ibu itu, mengalahkan orang yg ada di kanan kiri loket. ”Bogor, Pak!” Untungnya ibu itu punya seribu, kalo nggak? Lagian salah siapa buka loket kok Cuma satu, paling nggak buka 2 lah, eko dan exp, walaupun sepi penumpang, tetep aja itu kan standar pelayanan. Aneh... Petugas itu pun tampaknya agak sedikit bingung antara mengambil kembalian, dan memilah karcis yang sesuai dengan pesanan si pembeli. Aduh, ini bisa jadi fraud lagi, siapa tau saking banyaknya pembeli di loket, dia salah ambil karcis, yg beli exp dikasih eko? Bisa rugi bandar penumpang....
Tapi kereta sampai di Bogor kurang dari 1 jam, walaupun datang telat jam 4.20 sore. Ternyata Bogor sedang diguyur hujan lebat dengan angin kencang! Padahal payung saya sudah ”agak” rusak. Untungnya masih bisa digunakan dg ”selamat” sampai deket rumah dan naek beca. Walaupun setelah turun dari beca sih payungnya bener-bener rusak, patah, pun dihantam angin kencang, dan alhasil saya basah kuyup sampe rumah. Alhamdulillah juga ada tukang beca yang mau ngangkut saya, biasanya hujan besar tukang-tukang beca itu ”jual mahal” mengurung diri di balik tirai becanya. Ini yg mau namanya Mang Engkos, kebetulan masih tetangga, suka bebersih di kebon, dan waktu saya nikah, dia yg jagain ”properti” di depan rumah. Atas jasanya, dia dpt uang lebih dari tarif biasa dong, tanpa maksud merusak harga pasar.... :D

Friday, October 06, 2006

Kerja Itu Hanya Selingan, untuk Menunggu Waktu Sholat

Postingan teman di milis ISTELKOM2005...


Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja."

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres & selalu tidak tenang. "Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut,
beliau bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku " ?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi." Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya."
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?"
"Di masjid itu 'kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra."
"Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?"
"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar selingan aja."
"Selingan ?"
"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra."

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil
berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : "Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat..."

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya...(sungguh saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau rapat dengan klien
dirasakan tanggung untuk diakhiri. Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal
terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Padahal dunia ini akan saya tinggalkan juga ..........kenapa saya begitu bodoh..

Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

Thursday, October 05, 2006

My Mom & Sales Kosmetik

Kemaren malem pulang ke rumah, ibu lagi cemberut. Ternyata lagi sebel sama salah satu pengasuh sekaligus pembantu di rumah, yg kemaren sakit tapi begitu masuk gak ngomong a gak ngomong u, udah datengnya telat pun. Hasilnya ibu berniat buat "ngabur" dari rumah, beli obat, trus jalan ke Yasmin. Lhadalah kunci Yasminnya ketinggalan, jadinya terpaksa balik lagi ke rumah. Trus gini deh cerita lanjutannya :

"Mamah lagi terkantuk-kantuk di kursi. Eh dasar anak itu gak ngerti, jadi dibangunin, "Bu, bu, itu ada yg nyari, katanya mau ketemu ibu." Haaah siapa lagi sih, rasanya mama gak janjian sama siapa pun. Akhirnya terpaksa juga keluar. Eeeeeeh ternyata itu si sales, yg nawarin kosmetik. Sales itu udah 6 kali kayaknya dateng ke sini dan udah dibilang juga gak mau, nekat aja. Pernah sekali dateng pas mamah lagi ada mahasiswa bimbingan. Udah dibilang, "Nggak, saya lagi ada konsultasi mahasiswa ini." Eh, dia bilang, "Ga apa-apa bu, sebentar aja." (yg gak apa-apa itu dia, mamah mah apa-apa - red) Dan berhasil ditolak juga. Terus kali lain dateng pas mamah udah di pintu pager udah kesiangan mau berangkat ngajar. "Gak ah, saya buru-buru ini mau berangkat." Jawabannya gitu juga, "Gak apa-apa bu, ini sebentar aja." Mamah tinggal aja, "Nggak, saya gak sempet."

Nah, tadi itu dia udah ngegelosor aja di lantai, kasian kayanya udah mau duduk banget. Jadi ya udahlah dilayani. Dia nawarin kosmetik kecil-kecil gitu. Ada bedak, lipstik, parfum, udah sepaket.

Mamah : "Gak ah, saya udah tua, gak pake kosmetik."
Sales : "Oh, ibu udah pensiun yah?"
Mamah : "Ya belum, tapi kan tetep aja saya udah tua, gak pake kosmetik."
Sales : "Tapi liat aja dulu bu, ini bagus dan murah."

Ah, karena kasian dan lagi puasa males kesel, jadinya dilayanin aja. Mamah tanya lah berapa itu harganya.Kedengeran mamah sih dia ngomong sepaket itu harganya 15, tapi kok ya mamah tawar 20 dia bilang 45. Nah, jadi sebenernya dia bilang tadi itu berapa dong? Dia bilang ni Pixy kalo di luaran harganya 35. Ah, jadi tadi dia nawarin berapa sih ya? (saya bilang jgn-jgn nawarin 15 itu 150rebu-red) Trus dia nawarin,

Sales : "Ini bu ini parfum enak baunya." Mamah liat : "MUSK"
Mamah : "Wah itu mah buat orang laki."
Sales : "Kalo gitu yg ini aja bu, enak wangi orange." Mamah liat : For men.

Heee ni orang ngerti gak sih jualannya. Ato jgn2 ngira mamah udah tua jadi bisa diboongin yah, enak aja, mau ngeboongin dosen. (Hahahaahahaha... si mamah bisa aja-red). Yang ngeselin sih anak-anak itu (pengasuh-red) yg malah ikutan ngerubung di luar. Kayaknya sih untung-untungan, sapa tau dibeliin. (Lha wong kita aja gak kosmetikan, kok ? -red). Dan karena mereka di sana, jadinya Auliya juga berkeliaran di depan. Dan kaci dong dia ngambil kotak Jahe Wangi Sidomuncul, terus dia bawa-bawa ke sana kemari. Karena kosmetiknya gak minat dan harganya juga gak cocok, jadinya mamah bilang, "Udahlah, saya beli Jahe itu aja, berapa?" Ternyata 1500/bungkus, ada 3 bungkus, dikasih uang 5000 gak ada dong kembaliannya 500. "Ya udahlah gak usah," gitu mamah bialng. Biar cepet aja dia pergi. Ternyata setelah selese transaksi itu, dia mulai lagi ngeluarin barang-barang yg tadi lagi. "Jadi ibu mau yg mana bu?" Akhirnya dikasih dong 20rebu! (Terus mamah beli?-red)
Iya, akhirnya mamah beli. (Gubrags, udah segitu lama ceritanya akhirnya dibeli juga?-red)
Lah ya abis gimana?"

Ngegemesin juga ....